Kolom Agama, Perlu Atau Tidak?

Kolom-Agama,-Perlu-Atau-Tidak

Isu mengenai kolom agama di E-KTP tak bisa dipungkiri semakin memanas. Satu pihak mengatakan bahwa sebagai negara yang berketuhanan dimana hal itu tercantum pada Sila pertama Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa,” menganggap perlu dicantumkannya kolom agama pada E-KTP, hal ini juga dianggap partisipasi pemerintah dalam perlindungan agama dari penodaan dan menanggulangi kesesatan atau radikalisme suatu kelompok keyakinan.

Namun dilain pihak yang kontra dengan adanya kolom agama di E-KTP menganggap pencantuman kolom agama ini cukup diskriminatif dan tidak sesuai dengan UUD’45 pasal 29 yang menjamin warga negara untuk memeluk dan menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing, tapi kenyataannya hanya 6 Agama saja yang diakui oleh negara saat ini dan beberapa kelompok yang merasa tidak memeluk salah satu Agama yang disahkan ini merasa keberatan karena beberapa dari mereka dipaksa untuk memilih agama yang tidak mereka yakini.

Masalah yang terjadi seperti kasus Ahmadiyah, menjadi suatu tamparan besar bagi pemerintah Indonesia karena jaminan perlindungan warga negara dalam berkeyakinan dipertanyakan. Cukup memilukan melihat kenyataan hak hidup mereka sebagai warga negara dirampas hanya karena masalah keyakinan. Selain itu nasib jemaat GKI Yasmin yang mengadakan ibadah didepan kantor DPR/MPR Jakarta sebagai bentuk protes mereka akan jaminan kebebasan untuk beribadah direnggut hanya karena mereka berbeda keyakinan dengan penduduk setempat.

Dewi Kanti, tokoh Sunda Wiwitan yang merupakan keyakinan tradisional yang dipeluk hingga saat ini oleh beberapa kelompok masyarakat di Jawa Barat, mengalami hal yang sangat tidak mengenakan, dimana dia saat membuat KTP, dia  dipaksa untuk memilih salah satu dari 6 agama, dan dia juga mengaku bahwa untuk mengurus masalah kematian dalam komunitas merekapun juga sulit hanya karena keyakinan mereka tidak diakui negara.

Sungguh mengenaskan kenyataan yang ada apalagi hal ini terjadi di negara dengan keberagaman yang besar. Bagi saya pribadi, pencantuman kolom agama dirasa tidak perlu, mengapa? Pertama, Agama adalah pribadi setiap manusia dengan Tuhan. Hal ini bukan berarti saya malu mengakui agama saya. TIDAK!! Saya seorang KRISTEN, dan saya bangga dengan menjadi KRISTEN. Saya pengikut KRISTUS dan saya rindu melihat setiap orang melihat  pribadi YESUS KRISTUS yang saya percaya lewat kehidupan pribadi saya. Yang kedua, kolom Agama di E-KTP menurut saya menodai agama itu sendiri, misalnya seseorang penganut agama tertentu mencantumkan agama yang dianutnya di KTP tapi dia sendiri tidak melakukan ajaran agamanya, bahkan berprilaku diluar norma-norma agama dan akhirnya timbulah sebutan “Agama KTP” (Islam KTP, Kristen KTP, dll)

Agama yang seharusnya menjadi norma, nilai dan pedoman kehidupan akhirnya hanya menjadi sebuah identitas “hitam diatas putih” saja dan nilai fungsi dari agama itu menjadi hilang. PLT Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok sangat bersikeras dan mendesak pemerintah untuk menghapus kolom agama di KTP dan alasan beliau seperti yang dikutip di media online Kompas (tanggal 19 Juni 2014 Baca ) menyatakan bahwa kolom agama hanya membuat masyarakat terbagi dalam kelompok mayoritas dan minoritas, selain itu agama yang dicantumkan hanya mengenal 1 aliran saja, padahal tiap-tiap agama ada banyak aliran yang banyak, contohnya agama Kristen, saya pribadi Kristen dari aliran Karismatik sedangkan yang diakui di Indonesia hanyalah Kristen Protestan, begitu juga dengan Islam, dan agama-agama lain. Namun keputusan pemerintah lewat Mendagri Tjahyo Kumolo tidak akan menghapus kolom agama hanya saja bagi masyarakat yang tidak merasa memeluk salah satu dari 6 Agama yang disahkan, atau yang keberatan untuk mengisi bisa dikosongkan.(Baca)

Namun bagaimanapun juga keputusan ini masih belum memuaskan kelompok yang kontra dengan kolom agama ini, pasalnya mindset masyarakat mengenai pribadi yang berketuhanan adalah dalam bentuk agama, dan yang menjadi concern, jika beberapa kalangan yang keberatan mencantumkan agama dan kemudian kolom agama dikosongkan, penilaian masyarakat pasti akan timbul bahwa orang yang tidak beragama adalah pribadi yang tidak bertuhan dan berujung pada sebuah diskrimasi dalam kehidupan bersosial mereka.

Dengan melihat kenyataan sekarang, kita melihat kelompok-kelompok yang mengaku beragama namun perilaku dan karakternya TIDAK mencerminkan ajaran agama yang dianut. Dalam hal ini, saya akan frontal berkata FPI, bagi saya mereka tidak memahami keyakinan atau agama yang mereka anut meskipun dari penampilan mereka terlihat selayaknya seperti orang agamis.

Agama merupakan sebuah norma dan panduan hidup seseorang dan cukup disayangkan jika masalah kolom agama ini menjadi isu yang cukup besar dan memecah belah kesatuan bangsa. Kasus ini mengingatkan saya sebuah lagu dari Alm. John Lenon “Imagine” dalam lagu itu, dia memimpikan adanya sebuah kesatuan umat manusia di bumi dan dalam liriknya dia berkata “Andaikan tidak ada agama..” berikut ini video klip dari John Lenon “Imagine”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s