AKU CINTA MALAYSIA

Image

Judul yang sangat kontroversial bagi orang Indonesia dan kenapa saya menulis judul ini? Artikel ini adalah bagian kedua dari apa yang saya tulis sebelumnya pada blog saya mengenai rekonsiliasi. Sejujurnya, perlu waktu bertahun-tahun untuk saya mengatakan statemen ini karena saya dulu juga sangat membenci Malaysia. Alasan mengapa saya dulu membenci Malaysia cukup kuat dan mungkin bisa saya detailkan kedalam poin poin sbb;

1. Malaysia memperlakukan TKI dan TKW Indonesia dengan sangat tidak manusiawi.

Banyak kasus yang terjadi terhadap TKI dan TKW yang ada di Malaysia dimana mereka mendapat perlakuan yang sangat tidak adil bahkan tidak manusiawi dari majikan mereka. Saya pernah mendengar berita yang paling keji yang dialami oleh salah satu TKW Indonesia disana. Disebutkan seorang TKW bernama Nirmala Bulan (Kalau tidak salah sebut) asal NTT, mengalami kekejian yang dilakukan oleh majikannya di Malaysia, dimana Nirmala ini disiksa habis-habisan, parahnya, majikannya menyetrika tubuh bagian punggung Nirmala sampai kulitnya mengelupas dan mengalami luka yang sangat parah, dan ada juga seorang TKW Indonesia yang mengalami kerusakan wajah karena disiram air keras oleh majikannya. Saat mendengar berita itu, hati saya sudah tertanam kebencian yang mendalam terhadap negeri jiran ini. Saya sempat berpikir “Kok bisa ya ada negara sekeji ini memperlakukan sesama manusia?”

2. Malaysia mengklaim beberapa teritorial Indonesia.

Masih teringat dengan kasus klaim Malaysia terhadap perairan Ambalat di Kalimantan dimana klaim ini membuat marah warga Indonesia pada umumnya sampai mereka rela menjadi voluntir untuk ikut berperang mempertahankan perairan ambalat ini.

Kasus sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan yang akhirnya dengan berat hati Indonesia harus melepaskan kedua pulau ini karena PBB memenangkan Malaysia atas klaimnya.

Diraja Malaysia menangkap tentara Indonesia di perairan Batam yang notabene merupakan perairan Indonesia sendiri, pihak Malaysia lagi-lagi mengeklaim perairan itu masuk ke teritorialnya.

3. Malaysia mengeklaim beberapa budaya Indonesia

Kasus ini adalah kasus yang paling membuat warga Indonesia khususnya saya  pribadi geram dengan ulah negeri jiran ini. Beberapa budaya lokal Indonesia seperti wayang kulit, seni batik, seni angklung, beberapa lagu daerah Indonesia seperti “Rasa Sayange”, beberapa tarian Jawa dan bahkan sampai tarian tradisional Bali, Pendet juga masuk dalam klaim Malaysia. Kasus ini menimbulkan amarah yang cukup tinggi di kalangan orang Indonesia. Fanpage yang berbau komunitas pembenci Malaysia banyak yang mucul dan saya dulu salah satu pengikut komunitas ini.

3 hal diatas merupakan alasan kuat saya mengapa saya dulu benci sekali dengan negeri Jiran ini dan secara pikiran manusia, saya harusnya dibenarkan. Sampai akhirnya saya tersadarkan bahwa kebencian yang berlarut-larut tidak akan pernah membuat saya puas. Tahun 2012, adalah tahun teguran Tuhan buat saya, diawali dimana saya menjadi salah satu panitia event besar yang saat itu juga didatangi oleh delegasi dari Malaysia. Pada saat itu timbul suatu pemikiran, kenapa harus ada yang dari Malaysia? Apakah saya harus melayani mereka sedangkan saya benci sekali dengan Malaysia.

Pemikiran picik itupun berubah 180 derajat saat saya bertemu mereka secara langsung. saya banyak berbicara dengan mereka dan saya juga katakan perasaan saya yang sebenernya terhadap mereka dan respon dari mereka sangat baik, mereka tetap memberikan senyum pada saya sambil berkata “Just let it go and move on!” kalimat ini sangat mengguncang hati saya sehingga timbul rasa kasih yang mendalam terhadap mereka. Tuhan mengubah kebencian yang ada dalam hati saya menjadi kasih.

Rasa ini semakin diperkuat saat seorang pendeta bernama Ps. Ben Chew asal Singapore, memanggil saya dan mendoakan saya dan ditengah-tengah doanya, beliau berkata “You will go to the Nations so prepare yourself!!” saat itu saya benar-benar tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa, melaui hambaNya, Tuhan menaruh hati bangsa-bangsa dalam diri saya. Suatu tantangan besar buat saya dimana doa itu mengharuskan saya mengasihi bangsa-bangsa terutama Malaysia.

Tahun ini saya juga baru melewati event tersebut  yang lagi-lagi kedatangan delegasi asal negeri Jiran ini dan bahkan lebih banyak, mereka berasal dari kota Miri, Serawak, Malaysia Timur. Pada kesempatan itu saya juga rekonsiliasi dengan mereka mengenai rasa benci yang dulu pernah saya miliki terhadap Malaysia. Dengan tuntunan Tuhan, saya dengan mudah berkata kepada mereka “Guys, you’re all my family, I love you and I love Malaysia!!” Saya tidak bisa menahan diri untuk menagis dihadapan mereka dan mereka merespon dengan memberikan doa dan pelukan keluarga terhadap saya. Salah satu dari tim berkata “Miri awaits you!! we all Mirians await you there, please come!” dan saya menjawab “Pray for me guys so GOD will open His door for me to go there and sure I’ll go there to see my Mirians family there and also to see how GOD’s works there, love you all!”

Ini merupakan salah satu rekonsiliasi yang saya lakukan dan saya harap bisa jadi percontohan buat siapapun yang membacanya. Pesan yang bisa saya bagikan, People and Politic are different matter! jangan campurkan urusan politik dengan rasa kasih yang bisa kita bagikan terhadap sesama.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s