LIFE IS SCENARIO

ImageSetiap kita pasti pernah yang namanya nonton film tentunya dan kitapun tahu kalau dalam sebuah film ada yang namanya skenario atau naskah yang dimana dalam naskah itu terdapat alur cerita dari awal cerita berlangsung, kemudian konflik yang terjadi sampai penyelesaiannya.  Dari sebuah kata skenario ini saya menyadari bahwa hidup yang kita jalani ini adalah skenario dari Tuhan. Tak dipungkiri, kalau kita merenungi kehidupan masa lalu kita sampai sekarang,  itu semua sudah dalam skenario. Kalau boleh saya bagikan pengalaman hidup yang sudah saya alami, yaitu dimulai dari saya masih duduk di bangku SMP, saat itu saya mengalami ketakutan disetiap jam pelajaran Matematika, setiap ada pelajaran itu, saya sudah stres, males dan tidak ada niat, bahkan saya selalu tinggal tidur, karena menurut saya Matematika itu hanya bikin pikiran tambah kacau, sampai suatu saat, ada sistem baru mengenai kelulusan dimana untuk 3 mata pelajaran inti (Bahasa Indonesia, Matematika dan English Language) harus memperoleh nilai 4,01 minimal untuk bisa lulus sedangkan setiap kali saya menghadapi test Matematika aja, nilai 3 udah cukup lumayan buat saya. Akhirnya saat saya naik kelas 3, saya harus dengan keseriusan saya menyukai Matematika. Saat itu saya sempet ngambeg sama Tuhan, “kenapa keadaan harus sesulit ini jadinya,  aku kan gak bisa dan gak suka matematika..” sampai suatu ketika saya menyadari  bahwa apa yang saya gerutukan itu tidak ada gunanya. Akhirnya, mau tidak mau, saya harus bisa Matematika, sesulit apapun itu, saya harus bisa lulus, malu-maluin banget lah masak SMP aja gak lulus. Waktu ujian berlangsung, saya menyerahkan semua pergumulan kepada Tuhan, waktu itu saya hanya bergantung kepada iman saya bahwa segala kesulitan bisa saya lewati dan pasti saya berhasil tapi dengan belajar serius juga sebelumnya (ora et labora). Sampai pada saatnya pengumuman kelulusan, waktu itu hati saya serasa mau meletus karena saking tegangnya, saya gak doyan makan, keringat dingin bercucuran.. yeaahhh pokoknya saya gak bisa tenang waktu itu.  kemudian mamah saya pulang dengan membawa hasil dan betapa gembiranya saya waktu itu saat saya dinyatakan lulus ujian nasional. Saya tidak dapat berhenti mengucap syukur waktu itu kemudian saat saya masuk di bangku SMA, saya  tidak pernah yang namanya ketakutan dengan Matematika, malah saya merasa enjoy saat jam pelajaran itu berlangsung. Dari sini saya bisa ambil sebuah kesimpulan, bilamana kalau pemerintah tidak memberi standarisasi kelulusan, sampai sekarang pasti saya masih gak suka sama Matematika. Saya menyadari bahwa semua kesulitan yang saya alami lalu dapat berdampak baik buat kehidupan saya dimasa depan. Jadi apapun kesulitan kita mungkin kita ditengah-tengah kondisi yang tidak menentu saat ini, percaya saja pasti kita akan menemukan suatu keadaan dimana kita akan berpikir kalau kita tidak mengalami kesulitan itu, kita tidak dapat menjalani kehidupan saat ini. Kuncinya adalah “Trust and Obey”.. taat untuk terus berusaha sebaik mungkin dan percaya bahwa Tuhan turut campur dalam setiap pergumulan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s